Jakarta – bknberita.web.id/, Pernyataan Menteri Agama RI, Nazaruddin Umar, yang menyarankan agar masyarakat tidak perlu repot menyembelih hewan kurban sendiri dan cukup menyerahkannya kepada Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), menuai respons kritis dari berbagai pihak.
Ketua Umum Barisan Ksatria Nusantara, Gus Rofi Mukhlis, secara tegas menyatakan ketidaksetujuannya terhadap usulan tersebut. Ia menilai gagasan itu berpotensi menghilangkan nilai sosial dan tradisi yang selama ini melekat kuat dalam pelaksanaan ibadah kurban di Indonesia.
“Kalau narasinya ‘daripada repot-repot motong kambing, undang warga dan segala macam, ya sudah diserahkan saja ke Baznas’, menurut saya ini tidak tepat,” ujar Gus Rofi dalam keterangannya.
Menurutnya, momentum Idul Adha bukan sekadar aktivitas distribusi daging, melainkan ruang sosial yang mempererat hubungan antarwarga. Ia menegaskan bahwa tradisi penyembelihan hewan kurban di kampung-kampung telah menjadi sarana silaturahmi, gotong royong, dan kebersamaan yang tidak bisa digantikan oleh sistem sentralisasi.
“Di desa-desa itu ada kebersamaan. Orang berkumpul, menyembelih bersama, mengolah daging bersama, makan bersama, lalu dibagikan ke tetangga. Itu yang membangun persaudaraan,” tegasnya.
Gus Rofi juga mengkritik pendekatan yang dinilai terlalu menyederhanakan ibadah kurban hanya sebagai urusan teknis distribusi. Ia bahkan menyebut pandangan tersebut sebagai “offset” atau kurang tepat jika diterapkan dalam konteks sosial masyarakat Indonesia.
Lebih lanjut, ia menolak perbandingan dengan sistem di negara lain. Menurutnya, Indonesia memiliki kekuatan tersendiri dalam menjaga tradisi keagamaan yang sarat nilai kebersamaan.
“Jangan disamakan dengan negara seperti Amerika. Indonesia itu kuat karena tradisinya—ada tahlil, selamatan, riungan, dan termasuk kurban yang dilakukan bersama-sama,” ujarnya.
Dalam khazanah keilmuan Ahlussunnah wal Jama’ah, ibadah kurban tidak hanya bernilai ritual, tetapi juga syiar yang dianjurkan untuk ditampakkan di tengah masyarakat. Dalam kitab Fathul Mu’in karya Zainuddin al-Malibari dijelaskan bahwa kurban merupakan bentuk pendekatan diri kepada Allah yang juga memiliki dimensi sosial melalui pembagian kepada fakir miskin dan lingkungan sekitar.
Gus Rofi pun mengingatkan agar kebijakan atau imbauan yang disampaikan pemerintah tetap mempertimbangkan kearifan lokal dan tradisi umat.
“Afwan, Pak Menteri. Kurban di Indonesia itu bukan sekadar memberi, tapi merawat kebersamaan. Jangan sampai ruh itu hilang,” pungkasnya.
Perdebatan ini mencerminkan dinamika antara upaya efisiensi pengelolaan ibadah dengan pentingnya menjaga nilai-nilai sosial dan budaya yang telah mengakar kuat di tengah masyarakat.
(AM-01)
Tonton juga Video Berikut :







